Gebrakan Infrastruktur Jokowi Setelah 72 Tahun Merdeka

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
1

60DetikNews ~ Presiden Joko Widodo terus menggenjot pembangunan infrastruktur di Tanah Air. Anggaran untuk pembangunan infrastruktur dalam 5 tahun mencapai Rp 5.500 triliun–meski tak semuanya didanai dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Dalam pidatonya pada Sidang Tahunan MPR 2017, Presiden menyatakan keinginannya agar rakyat Indonesia yang berada di pinggiran, di kawasan perbatasan, di pulau-pulau terdepan, di kawasan terisolir merasakan kehadiran negara dan buah pembangunan.

“Semuanya setara mendapatkan manfaat dari pembangunan,” demikian pidato Presiden. “Kita juga ingin rakyat di Pulau Rote bisa merasakan manfaat pembangunan infrastruktur, lancarnya konektivitas dan turunnya biaya logistik.”

Untuk merealisasikan cita-cita itu, alokasi anggaran untuk pembangunan infrastruktur terus dilecut. Pada 2014, porsi anggaran infrastruktur terhadap total belanja negara hanya sebesar 8,7 persen. Setahun kemudian porsi tersebut membesar menjadi 14,2 persen, pada 2016 naik menjadi 15,2 persen, dan di tahun ini berada di level 18,6 persen.

Menurut data Kementerian Keuangan, rata-rata peningkatan alokasi belanja infrastruktur untuk tahun 2011-2014 versus 2015-2017 mencapai 123,4 persen. Tahun ini, anggaran infrastruktur dipatok di angka Rp 387,3 triliun.

078727200_1502888895-170816_Infrastruktur_Gebrakan_Jokowi-JK

Angka ini di bawah anggaran pendidikan yang Rp 416 triliun dan di atas anggaran kesehatan Rp 104 triliun. Tahun depan, bujet infrastruktur mencapai Rp 409 triliun.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menjelaskan, pembangunan infrastruktur wajib hukumnya untuk mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain dan meningkatkan daya saing. “Infrastruktur bukan untuk kemewahan tapi kebutuhan agar bangsa ini mampu berkompetisi bangsa lain,” Menteri Sri menegaskan.

Lonjakan anggaran untuk infrastruktur oleh Jokowi sepertinya untuk mengejar ketertinggalan Indonesia di bidang pembangunan infrastruktur. Seperti ditulis Majalah The Economist edisi 27 Februari 2016 dalam artikelnya berjudul The 13.466-Island Problem, Indonesia dalam beberapa dekade terakhir mengalami “pengabaian” dan under investment di bidang pembangunan infrastruktur. Toto

Pada pertengahan 1990-an, Indonesia rata-rata mengalokasikan dana sebesar 8 persen dari Produk Domestik Bruto per tahun untuk pembangunan infrastruktur. Setelah krisis moneter, angka itu anjlok menjadi 3 persen dan kemudian perlahan meningkat kembali pada 2014 menjadi 6,4 persen. Namun, angka ini pun masih tertinggal dibanding negara negara lain seperti China, Malaysia dan Vietnam yang menjaga pada angka 7 persen.

Rendahnya investasi di bidang infrastruktur menyebabkan biaya logistik meroket. Pada periode 2004 hingga 2011, tulis The Economist, rata-rata biaya logistik mencapai 27 persen dari PDB. Angka ini lebih tinggi dibanding Vietnam (25 persen), Thailand (20 persen), Malaysia (13 persen), dan Singapura sebesar 8 persen. (atn/ymn)

 

Berikan Tanggapan Kalian Lewat Tombol Reaksi Di Bawah

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
1

Leave a Reply