Demo Protes Hong Kong Yang Menginspirasi

Dalam 4 Bulan Terakhir, Protes Anti Pemerintah Hong Kong Menarik Perhatian Dunia

Berita Hari Ini ~Dalam empat bulan belakangan ini, protes massa antipemerintah di Hong Kong telah menarik perhatian dunia. Dilengkapi teknologi komunikasi modern, para demonstran memfokuskan kemarahan mereka kepada pemerintah Hong Kong, lembaga kepolisian dan simbol-simbol pemerintahan Beijing.

Protes yang mayoritas berjalan tanpa pemimpin ini berarti mereka telah meninggalkan hirarki tradisional pergerakan politik. Para pengunjuk rasa di Hong Kong malah merencanakan aksinya melalui struktur organisasi yang terdesentralisasi.

Untuk memfasilitasi kelancaran berbagi informasi, warga Hong Kong mengandalkan aplikasi pengiriman pesan seperti Telegram dan peta online yang membantu pengunjuk rasa secara langsung melihat lokasi keberadaan polisi. Mulai dari memblokade jalan-jalan hingga menciptakan gangguan lalu lintas udara, taktik Hong Kong telah menjadi “contoh buku teks” bagi para pengunjuk rasa di negara lain.

Protes serupa terjadi di Indonesia dan wilayah Catalonia, Spanyol

Di Indonesia, pemicu protes kali ini adalah kemarahan terhadap undang-undang yang menurut para mahasiswa telah melemahkan perang melawan korupsi dan sejumlah pasal kontroversial lain, termasuk hukum pidana yang mengatur seks di luar nikah. Protes seringnya berubah menjadi kekerasan. Demonstran berkumpul di depan gedung-gedung pemerintah, membakar ban dan melempar batu serta bom molotov ke arah pasukan keamanan. Polisi merespons dengan menembakkan gas air mata dan meriam air ke arah para pengunjuk rasa.

Menurut dua orang mahasiswa yang berpartisipasi dalam unjuk rasa tersebut, informasi tentang aksi demonstrasi disebarluaskan melalui media sosial dan aplikasi pengiriman pesan. Untuk membantu para demonstran memperoleh pengetahuan dasar tentang cara menangani gas air mata, beberapa siswa menerjemahkan video dan artikel tentang taktik pengunjuk rasa di Hong Kong dalam meredakan pengaruh gas air mata ke dalam Bahasa Indonesia.

“Kami berbagi informasi tentang bagaimana menangani gas air mata melalui grup WhatsApp, grup Line, Twitter, dan Instagram,” kata seorang mahasiswa ilmu komputer berusia 23 tahun yang tidak ingin disebutkan namanya. “Saya juga mengorganisir kelompok diskusi untuk membicarakan taktik para demonstran Hong Kong dan latar belakang protes mereka.”

Seorang mahasiswi mengatakan bahwa banyak pengunjuk rasa di Indonesia menutupi wajah mereka selama protes. Ini adalah sebuah taktik yang telah banyak dipakai oleh para demonstran Hong Kong. “Penting bagi kami untuk tetap fleksibel,” katanya. “Kegigihan yang ditunjukkan Hong Kong selama beberapa bulan terakhir benar-benar menginspirasi.”

Meniru taktik

Sementara di Catalonia, kelompok separatis yang memprotes ditahannya sembilan pemimpin mereka, secara terbuka meniru cara-cara yang dipraktekkan di Hong Kong.

Tidak lama setelah Mahkamah Agung Spanyol menghukum sembilan pemimpin Catalan dengan hukuman penjara hingga 13 tahun karena berperan dalam upaya kemerdekaan pada 2017 yang kemudian gagal, sekitar 240.000 pengguna aplikasi pesan buatan Rusia, Telegram, menerima pesan yang menyerukan mereka untuk bergerak menuju bandara El Prat di Barcelona, yang merupakan bandara tersibuk kedua di Spanyol.

Sesuai pesan itu, tujuannya adalah untuk “melumpuhkan” bandara, seperti yang dilakukan para demonstran di Hong Kong pada bulan September. Pesan ini dikirim oleh platform separatis online yaitu “Tsunami Democratic.”

Tsunami Demokratic menggunakan layanan pengiriman pesan seperti Telegram dan secara mandiri mengembangkan aplikasi untuk menyampaikan pesan secara anomin oleh pemimpin kepada para pengikutnya untuk melakukan tindakan yang disebut sebagai pembangkangan sipil tanpa kekerasan.

Banyak pemrotes Catalan menjadikan demonstrasi di Hong Kong sebagai sumber inspirasi. “Kami sejak awal telah sangat tertarik dengan protes di Hong Kong,” kata anggota Picnic x República, sebuah platform online yang dibuat untuk memobilisasi orang-orang di Catalonia untuk tujuan politik. “Cara para pengunjuk rasa di Hong Kong bereaksi terhadap penindasan; pola pikir yang cepat, tidak terduga, dan kreatif, menarik bagi kami.”

Berbeda tuntutan

Pengunjuk rasa Catalan memang belajar banyak dari rekan-rekan mereka di Hong Kong. Namun beberapa pengamat menunjukkan perbedaan mendasar antara kedua gerakan ini. Orang-orang di Hong Kong dan Catalonia memiliki tuntutan berbeda, ujar Shiany Perez-Cheng, seorang dosen dan analis politik di Universitas Salamanca.

Dia menunjukkan bahwa di antara lima tuntutan pengunjuk rasa Hong Kong tidak ada upaya menuntut kemerdekaan bagi wilayah administrasi khusus Cina tersebut. Sementara pengunjuk rasa Catalan berharap untuk mencapai kemerdekaan dari Spanyol.

“Para pengunjuk rasa Hong Kong meminta Beijing untuk menghormati komitmen yang dibuat dalam Deklarasi Bersama Sino-Inggris dan Hukum Dasar Hong Kong. Sedangkan para pengunjuk rasa Catalan telah melanggar konstitusi Spanyol dan Statuta Otonomi Catalonia dengan berusaha menuntut kemerdekaan,” kata Perez- Cheng.

Baca Juga : Pengamat : Harusnya Gerinda Tidak Dimasukkan Dalam Pemerintahan

Baca Juga : Alasan Jokowi Pilih Nama ‘Kabinet Indonesia Maju’

 

 

Ayo Daftar Dan Pasang Angka Kalian Di Agen Togel Terpercaya Musimtoto

Cash Back 2% Dan Bonus Free Saldo 10rb Untuk New Member

pasang togel online terpercaya

zvr
Bagaimana Reaksimu ?

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.