Inilah 5 Skenario Pemicu Perang Dunia Ke 3 Antara AS, Korut Dan Israel !!

Pemicu Perang Dunia Ke 3

Berita Online ~ Perang Dunia – Sepanjang tahun 2017 ini, telah terjadi sejumlah peristiwa besar yang mengguncang global dan kerap disebut-sebut berpotensi sebagai penyulut Perang Dunia III.

Mulai dari serangan teroris di berbagai kota besar mancanegara, juga peningkatan tensi politik dan militer di penjuru dunia.

Selain itu, ancaman nuklir Korea Utara di kawasan Asia Timur dan kekhawatiran akan serangan balasan dari Amerika Serikat ke negara yang dipimpin oleh Kim Jong-un itu semakin meningkatkan ketakutan akan konflik bersenjata berskala besar.

Memasuki pengujung tahun, beberapa di antara potensi penyulut Perang Dunia III itu memang sudah berakhir, salah satunya kekalahan ISIS di Irak dan Suriah.

Akan tetapi, sebagian besar pemantik konflik bersenjata berskala internasional masih tetap bertahan.

Bahkan, pada bulan ke-12, muncul ‘pemantik-pemantik’ baru, salah satunya isu Yerusalem yang cukup menyita perhatian dunia serta potensi kepemilikan Korea Utara atas senjata biologis dan kimia

Dan mungkin saja, memasuki 2018 yang tinggal menghitung jam, sebagian orang mulai mengkhawatirkan mengenai ancaman Perang Dunia III yang seakan nampak semakin nyata.

Dari berbagai contoh, berikut 5 skenario seputar Perang Dunia III yang mungkin terjadi pada 2018,

017120700_1505542044-20170916-Kim-Jong-un-Saksikan-Langsung-Peluncuran-Rudal-Balistik-Hwasong-12-AFP-1.jpg

1. Kim Jong-un Melakukan Tindakan Gila

Faktanya adalah, Kim Jong-un memang memiliki misil jarak jauh. Dan, hulu ledak nuklir. Bahkan teranyar, ia diduga kuat memiliki senkata biologis dan kimia.

Fakta lain juga adalah, Korea Utara telah lama mempersiapkan diri mereka secara sistemik dan struktural untuk kemungkinan menerima serangan dan konflik terbuka dengan negara lain. Demikian seperti dikutip The Sun.

Uji coba misil jarak jauh mereka misalnya, telah diprediksi oleh pengamat mampu menempuh sejumlah jarak untuk mengenai sasaran di Korea Selatan, Jepang dan bahkan Amerika Serikat.

Andaikata serangan itu berhasil dilakukan, maka dampaknya mungkin akan cukup serius bagi AS untuk melakukan serangan balasan secara efektif.

Skenario itu masih bersifat 50/50. Karena, meski Kim memiliki mengklaim hulu ledak nuklir, dunia masih belum mengetahui secara pasti apakah nuklir itu akan efektif.

Tapi tunggu, kehadiran Presiden Donald Trump dalam kancah perpolitikan global diprediksi dapat menjadi bandul pemberat bagi situasi di Korea Utara.

Pengamat memprediksi bahwa sikap Trump yang eksentrik dan sulit ditebak dapat memberikan kesan bagi Kim Jong-un bahwa AS akan sungguh-sungguh menyerang Pyongyang.

ct-donald-trump-stupid-president-20170531

2. Efek Donald Trump Terkait Yerusalem

John Andrews, pakar urusan internasional dan koresponden media asing veteran, mengatakan bahwa, “Trump merupakan tantangan nyata bagi para diplomat”. Salah satu alasannya, menurut Andrews, adalah sikap Trump yang sulit ditebak dalam memproduksi sejumlah kebijakan luar negeri.

Tak hanya itu, tendensi sang presiden untuk selalu mengungkit sejumlah permasalahan politik melalui Twitter, dianggap semakin memperburuk situasi.

“Kita sudah terbiasa dengan pemimpin dunia yang sulit untuk diprediksi, seperti Kim Jong-un. Namun, setelah Pilpres AS 2016, kita mengenal satu lagi pemimpin dunia yang sulit diprediksi, yakni Donald J. Trump,” tambah Andrews.

Situasi terbaru juga menunjukkan mengenai sikap Trump yang nampak semakin tak sabar untuk menekan Korea Utara terkait program nuklir yang dilakukan oleh Pyongyang.

Donald Trump Soal Yerusalem

Keputusan Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel pada 6 Desember 2017 lalu juga diprediksi mampu memicu konflik bersenjata berskala besar. Apalagi mengingat betapa banyak negara yang menaruh perhatian pada isu tersebut.

Memang, sejak pengakuan itu, konflik yang terjadi hanya sebatas bentrokan antara demonstran Palestina dengan pasukan keamanan Israel dan terisolasi di kawasan dua negara.

Akan tetapi, andaikata jika ada satu negara yang mengirim pasukan militernya ke kawasan Israel – Palestina dan menempuh opsi perang sebagai solusi, maka, bukan tak mungkin sejumlah negara lain turut melakukan hal yang sama.

090708500_1505442352-WhatsApp_Image_2017-09-15_at_7

3. Korsel dan Jepang vs Korea Utara

Secara teknis, Korea Selatan dan Utara merupakan negara yang masih dalam kondisi perang sejak Perang Korea pecah pada tahun 1950 hingga 1953. Enam puluh empat tahun kemudian, dua negara itu belum menandatangani perjanjian damai — baru gencatan senjata.

Muncullah, Demilitarized Zone (DMZ) pada perbatasan kedua negara. Tensi militer pada perbatasan itu cukup tinggi dan seringkali diprovokasi oleh Korea Utara. Seperti penanaman ranjau yang melukai tentara Korea Selatan, penenggelaman kapal Korsel di wilayah perairan DMZ, dan pencatutan pulau Korsel oleh Korut.

Jeffrey Lewis, direktur East Asia Nonproliferation Program dari Middlebury Institute of International Studies Lewis menilai, skenario buruk dapat terjadi apabila Korsel melakukan provokasi balasan. Negeri Ginseng dilaporkan memiliki sejumlah misil kendali jarak jauh yang khusus ditujukan untuk menyerang Kim Jong-un.

Namun, serangan balasan berupa hantaman nuklir dari Kim juga ditakutkan oleh Korea Selatan.

Maka, kata Lewis, hanya menunggu waktu hingga Korut melakukan provokasi yang kelewat batas dan Korsel telah habis kesabaran.

044514000_1449654801-20151209-Kapal-selam-Rusia-Serang-ISIS-2

4. Manuver Rusia di Eropa

NATO melaporkan bahwa sejumlah kapal selam Rusia tengah meningkatkan presensi dan aktivitasnya di Laut Atlantik Utara sejak beberapa waktu terakhir.

Aktivitas itu, menurut penilaian NATO, merupakan sebuah langkah agresif dari Rusia yang mampu mengganggu stabilitas di kawasan serta berpotensi memicu sejumlah masalah lain.

Meningkatnya tensi militer tinggi di kawasan — serupa periode Perang Dingin — dan mengancam keamanan kabel jaringan telekomunikasi vital yang berada di bawah Laut Atlantik Utara, merupakan konsekuensi dari aktivitas kapal selam Rusia itu. Demikian seperti dikutip dari The Hill, Senin (25/12/2017).

NATO khawatir, kabel bawah laut penyalur transmisi komunikasi dan internet untuk kawasan Eropa serta Amerika Utara itu sewaktu-waktu dapat dibajak oleh kapal selam Rusia tersebut.

005545000_1495609374-3__785px-Cheshire_Regiment_trench_Somme_1916__WC__Imperial_War_Museums__John_Warwick_Brooke

5. Prediksi Pemenang Perang Dunia III

Dipicu ketegangan di Korea Utara, sejumlah orang mengklaim, konflik global atau Perang Dunia III bisa menjelang dalam waktu dekat.

Jika itu sampai terjadi, akibatnya sungguh tak terbayangkan. Saat ini, satu senjata termonuklir yang bobotnya melebihi 1.000 kilogram punya daya ledak setara 1,2 juta ton TNT.

Situasi semakin memburuk ketika hampir semua kekuatan tempur utama di dunia saat ini punya kekuatan destruktif. Diperkirakan ada sekitar 22.000 hulu ledak nuklir — yang bisa memicu sebuah ‘kepunahan massal’ di muka Bumi jika digunakan secara bersamaan.

Bom atom yang dijatuhkan AS ke Hiroshima dan Nagasaki adalah kejadian kali pertama dan terakhir senjata nuklir digunakan dalam perang — sebuah kebijakan militer paling kontroversial secara moral, politis, dan historis.

Meski demikian, fakta menunjukkan, sejumlah negara terus memperbesar anggaran militer mereka untuk segala jenis persenjataan — dari yang ‘kurang’ mengerikan hingga diam-diam mengembangkan senjata nuklir.

Masih Sulit Menentukan Pemenang

Namun, secara kasat mata, Amerika Serikat diprediksi akan memenangi konflik terbuka, mengingat banyaknya aset militer yang dimiliki oleh Negeri Paman Sam.

AS memiliki 187 jet tempur F-22 dan F-35; 14 kapal selam pembawa 280 rudal berhulu ledak nuklir, 4 kapal selam pembawa 154 misil Tomahawk, dan 54 kapal selam tempur bertenaga nuklir.

Jumlah itu jauh lebih digdaya jika dibandingkan dengan negara besar lain seperti Rusia dan China. Sampai 2014, AS juga diduga mempunyai 7.300 senjata nuklir Itu belum termasuk dukungan dari para sekutu Washington.

Kini Rusia dilaporkan tengah mengembangkan satu jet tempur siluman. Sedangkan, untuk kapal selam, Negeri Beruang Merah hanya memiliki 60 unit.

Meski jumlah itu jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan yang dimiliki Presiden Trump, namun Moskow diduga memiliki sejumlah kapal selam dengan kemampuan siluman.

Selain itu, untuk meningkatkan kapabilitas persenjataan nuklir, mantan seteru AS pada Perang Dingin tersebut dilaporkan tengah mengembangkan torpedo nuklir berbobot 100 megaton.

Untuk senjata nuklir, negara pecahan Uni Soviet itu diperkirakan memiliki 8.000 senjata nuklir.

Baca Juga : Jennifer Dunn Menjalani Pemeriksaan Rambut Terkait kasus Narkoba

Baca Juga : Donald Trump Ancam Pakistan Usai Amerika Kalah Perang Di Afganistan !!

 

Hari Gini Masih Galau Cari BO Yang Aman ? Mau Gabung Di BO Aman Dan Terpercaya ?
Mau Menang Jackpot Togel Dengan Modal 20rb? Segera gabung dapatkan Ragam Promo Menarik
Jadi Buruan Daftar Dan bergabung dengan kami


togel online

zvr
Bagaimana Reaksimu ?

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.