PBB Fokus Lakukan Penyelidikan Terkait Kasus Perkosaan Wanita Rohingya

Pemerkosaan Wanita Rohingya Oleh Tentara Myanmar

Berita Hari IniPerkosaan yang menimpa para wanita Rohingya jadi salah satu fokus utama dalam laporan misi penyidik PBB pekan ini. Tindakan keji ini dilakukan oleh para tentara Myanmar secara sistematis, diakhiri dengan pembantaian ribuan orang.

“Perkosaan dan bentuk kekerasan seksual lainnya dilakukan dalam skala besar. Perkosaan massal skala besar oleh tentara Tatmadaw (Tentara Myanmar) terjadi di setidaknya 10 desa di wilayah utara Rakhine,” ujar laporan tim misi pencari fakta Dewan HAM PBB yang dipimpin Marzuki Darusman dari Indonesia.

Aksi perkosaan ini, tulis laporan PBB itu, dilakukan di tempat terbuka, bahkan di depan anggota keluarga korban dan masyarakat sekitar. Hal ini untuk memicu trauma dan rasa malu.

“Para ibu diperkosa massal di depan anak-anak mereka yang masih kecil, yang terluka parah, dan pada beberapa kasus dibunuh. Wanita dan gadis berusia 13 hingga 25 tahun jadi sasaran, termasuk wanita hamil,” bunyi laporan PBB tersebut.

“Perkosaan diikuti oleh kata-kata kasar dan ancaman mati, seperti ‘Kami akan membunuhmu dengan cara ini, dengan memperkosamu’. Mereka secara sistematis diculik, ditahan, dan diperkosa di pos polisi dan militer,” lanjut PBB lagi.

Dewan HAM PBB melanjutkan laporan tersebut dengan temuan-temuan yang menyayat hati. Penyelidikan menyebutkan, terkadang 40 wanita Rohingya diperkosa massal bersama-sama oleh para tentara Myanmar.

Para korban terluka parah sebelum dan selama perkosaan massal terjadi. Beberapa korban, lanjut PBB, mengalami luka gigitan yang dalam. Luka-luka juga terdapat di organ reproduksi mereka karena dilukai dengan pisau atau kayu. Kebanyakan tewas akibat luka-luka ini.

“Salah satu korban selamat mengatakan, ‘Saya beruntung, saya hanya diperkosa oleh tiga pria’,” tulis laporan PBB.

Pengakuan saksi kepada PBB juga mengatakan perkosaan dan kekerasan seksual juga dilakukan terhadap pria dewasa dan anak lelaki.

Kekerasan terhadap Rohingya ini terjadi sejak Agustus tahun lalu, dilakukan tentara Myanmar dengan dalih memberantas kelompok separatis bersenjata. Akibatnya lebih dari 720 ribu orang mengungsi ke Bangladesh.

Laporan PBB dihimpun setelah dilakukan penyelidikan dan interogasi korban antara September 2017 hingga Juli 2018 di Bangladesh, Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Inggris. Tim Penyidik Dewan HAM PBB juga melakukan konsultasi dengan 250 organisasi pemerintah, non-pemerintahan, peneliti, dan diplomat.

PBB juga menyatakan, sekitar 10 ribu orang Rohingya tewas dibantai tentara Myanmar. Kekerasan terhadap Rohingya tidak hanya terjadi belakangan ini saja. Menurut laporan PBB, Rohingya telah jadi korban persekusi di Myanmar sejak tahun 1960-an.

Laporan demi laporan PBB soal kekerasan terhadap Rohingya telah bergulir sejak tiga dekade lalu, namun tidak juga ada perbaikan, bahkan ketika Myanmar berganti sistem dari junta ke demokrasi yang kini dipimpin Aung San Suu Kyi.

“Skalanya, kebrutalan, dan sifatnya yang sistematis menunjukkan perkosaan dan kekerasan seksual adalah bagian dari strategi untuk mengintimidasi, meneror, atau menghukum warga sipil, dan digunakan sebagai taktik perang,” ujar laporan PBB.

Baca Juga : Facebook Nonaktifkan Akun Panglima Militer Myanmar Karena Protes Krisis Rohingya

Baca Juga : Maruf Amin Mundur Dari Posisi Ketum MUI Untuk Fokus Jadi Cawapres

 

Ayo Daftar Dan Pasang Angka Jitu Kalian Sekarang

Cash Back 2% Untuk Semua Pasaran Setiap Minggunya

Agen Togel Online Terpercaya

zvr
Bagaimana Reaksimu ?

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.